Aku
padamu
Aku
berdiri tegak.....
Layaknya
tiang bendera
Dikerumuni
nyawa-nyawa yang beraneka warna
Dikerumuni
suara-suara yang melengking di telinga
Diguyur
hujan yang marah
Diguyur
konflik yang menghadang layaknya karang penghalang ombak
Tapi
aku tak serapuh ranting-ranting pohon
Aku
mengikuti.....
Layaknya
bendera kebangsaan
Yang
dinaikkan dan diturunkan menyerupai timba
Tak
pernah menolak tangan-tangan kekar yang mengangkatku
Tak
pernah jua menepis jari-jari manis yang menyentuhku
Aku
menikmati setiap hipnotisnya
Terbuai
akan celoteh janji-janjinya
Aku
bertahan.....
Layaknya
bendera di atas tiang
Menahan
segala tekanan gaya
Menahan
segala rambatan longitudinal
Berpegang
teguh pada lilitan tua
Sehingga
topan tak mampu menghempaskanku
Menolak
rayuan sepoi-sepoi
Menghardik
lalat-lalat yang berusaha mengerumuni tubuhku
Aku
menerima.....
Layaknya
pengemis di jalanan
Lesung
pipiku selalu terangkat sehingga bibirku seperti perahu
Karena
mengeluh adalah bom mematikan bagiku
Karena
menyerah adalah hukuman pancung bagiku
Oleh: Meisa Isnaini
18 Maret 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar