Rabu, 29 April 2015

Tema: Suasana (2)

Jua Terakhir

Kala surya mulai mengantuk
Kala surya berjalan pulang ke peristirahatannya
Kala surya telah lelah menyinari bumi 

Mata ini menangkap sesosok anak manusia
Sosok yang ku kenal, sangat ku kenal dan paling ingin ku kenal
Menatapnya sekejap, lalu ku berpaling
Ketika sosok itu mendekat, 
Dalam hatiku berharap... 
Menyapa namaku..
Menghampiriku..

Tapi....
Bukan itu yang ku dapat
Hanya matanya yang bermain melirikku
Hanya bibirnya yang bermain seperti mengusir kucing

Kemudian.....
Bukan lambaian tangannya yang ku lihat
Seperti disengaja, seperti dimain-mainkan
Yang kulihat adalah hal yang ingin dia lakukan padaku
Hal yang ingin aku rasakan
Hal yang ingin aku dapatkan
Meskipun hanyalah menyebut namaku

Aku hanya menunduk dan meunduk
Pura-pura tak melihat dan tidak ingin melihat
Bibir diam tak bersuara, hanya suara hati yang bergemuruh
Melewatinya yang sedang bersama dengan yang lain.

Hanya itu yang terakhir
Terakhir melihatnya
Terakhir menemukannya

Oleh: Meisa Isnaini
29 April 2015

Tema: Suasana

Pulang

Bergerincing bel pengingat
Bergemuruh dentuman kaki
Berteriaklah anak-anak para pejabat

Melangkah keluar dari ruang yang dingin
Dingin di tubuh tapi panas di otak
Otak yang mendidih 
Perut yang mengerucuk
Dan mata yang sangat layu
Ya... Itulah kondisi anak pejabat saat itu

Ramai... Gaduh....
Meramaikan bumi yang sepi ini
Menjadikan bumi ini beterbangan dari mulut mereka kalimat-kalimat 
Kalimat-kalimat dinas mereka, candaan mereka, dan kalimat kotor mereka
Sangat beragam
Campur aduk tak beraturan

Saling berebut menemukan langkah pertama
Mengeluarkan transportasinya
Melaju ke penampungan masing-masing
Menampung tubuhnya
Mengisi perutnya

Oleh: Meisa Isnaini
29 April 2015

Tema: Hati (4)

Janji

Ketika adegan itu terjadi
Ketika sakit menyayat hati
Ketika perih menumpahkan cairan merah
Dan ketika mata tak lagi kering

Ada suatu hasrat yang mendalam
Sangat dalam....
Lebih dalam dari dalamnya laut samudra
Lebih kelam dari kelamnya dunia tanpa cahaya
Ada satu kata yang sangat menyentuh hati
Ada satu kalimat yang sangat keramat
Pantang untuk ditentang 
Pantang untuk digantikan 

Adalah bentuk dari ungkapan hati 
Adalah wujud dari emosi diri
Yang tak akan mampu diartikan maknanya
Oleh paranormal sekalipun, bahkan oleh penghipnotis sekalipun.

Bukan urusan orang dengan manusia
Bukan urusan insan dengan  binatang
Bukan juag urusan anak dengan orang tuanya
Kata-kata itu....
Kalimat-kalimat itu....
Hanyalah urusan dia dengan Yang Menciptakannya
Yang ditujukan kepada dia yang lain
Tanpa sepengetahuan dari dia yang lain.

Oleh: Meisa Isnaini
29 April 2015

Minggu, 19 April 2015

Tema: Bangunan (3)

 Rumah

Seperti payung, juga seperti topi
Seperti jas hujan, juga seperti kerudung
Selalu melindungi manusia yang ada di dalam badannya
Selalu menyelamatkan manusia dari panas dan dinginnya dunia

Besar dan kecil beragam bentuknya
Berjajar-jajar seperti barisan
Berwarna-warni seperti pelangi ada di darat
Berliku-liku seperti jalan pegunungan
Menanjak juga seperti naik ke pohon

Hebat...
Karenamu orang menjadi nyaman
Karenamu orang menjadi tenang 
Namun...
Karenamu juga orang menjadi beringas
Karenamu juga orang menjadi serakah
Diam, menenangkan sekaligus mematikan 

Oleh: Meisa Isnaini
19 April 2015







Jumat, 17 April 2015

Tema: Proses (2)

Menangis

Bermula dari fenomena
Berawal dari perasaan
Berpusat pada hati
Bereaksi pada air

Fenomena membuat hati teriris-iris, 
tersayat-sayat dan berdebar-debar
Perasaan itu sangat sakit, 
lebih sakit dari goresan pisau tajam
Hati yang menaggung perasaan itu, 
seketika menciut terkecik

Mata mulai merah
Dahi mulai mengerut
Dan air mulai terbendung di dalam merahnya mata

Kemudian........
Air itu mengalir deras melewati pipi yang halus
Membasahi wajah yang ayu
Memerahkan hidung yang mancung
Membuatnya sulit bernafas

Yang dibutuhkan hanyalah...
Tangan yang halus untuk mengusap air itu
Dan pelukan hangat untuk menenangkannya

Oleh: Meisa Isnaini
17 april 2015

Kamis, 16 April 2015

Tema: Bangunan (2)

 Rumah


Seperti payung, juga seperti topi
Seperti jas hujan, juga seperti kerudung
Selalu melindungi manusia yang ada di dalam badannya
Selalu menyelamatkan manusia dari panas dan dinginnya dunia

Besar dan kecil beragam bentuknya.
Berwarna-warni seperti pelangi turun ke darat.
Berliku-liku seperti jalan pegunungan.
Menanjak juga seperti naik ke pohon.

Banyak orang yang membangunnya.
Berjejer-jejer rapi, bertingkat-tingkat.
Berhiaskan pintu dan jendela.
Berisikan manusia dan perabotannya.
Ya... manusia dan perabotannya.
Dan tugasnya adalah untuk melindungi keduanya.
 

Oleh: Meisa Isnaini
16 April 2015

Rabu, 15 April 2015

Tema: Bangunan

Tiang 

Berdiri kokoh di antara atap dan lantai
Kuat, tak terkalahkan
Menanggung puluhan ton berat atap
Menekan kuat dan datarnya lantai
Sebagai penentu tegaknya sebuah pondok megah

Terlahir dari semen dan beton
Berorang tua para tukang
Berteman dengan cicak-cicak nakal, puluhan meter penyalur listrik, juga debu
Berhiaskan warna-warna dan berntuk yang beragam
Diam dan terpaku, namun menjadi saksi akan fenomena yang terjadi

Tak ada keinginan untuk berlari
Tak ada keinginan untuk berpindah
Dan tak ada keinginan untuk menuntut apa yang ditugaskan
Bahkan bicara pun tidak
Ya... Tugasnya hanyalah untuk diam dan menunggu
Menunggu orang tuanya dan relawan untuk merawatnya

Oleh: Meisa Isnaini
15 April 2015


Tema: Hidup (3)

Antara Hati dan Takdir

Hati....
Benda pengecut yang selalu di dalam
Sombong karena jasanya menghidupkan orang
Berbadan kecil berotak besar
Berawak satu bernyawa seribu
Mati satu tumbuh seribu
Penyelamat sekaligus penghancur

Ketika hati melengkingkan suaranya
pisau yang tajam pun tak mampu menggoresnya
Ketika hati menyandera kalimat, 
ralat seribu kali pun tak akan dihiraukan
Dan ketika hati telah berubah menjadi pencuri
polisi yang garang sekalipun tak akan mampu membunuhnya

Takdir...
Tak berwujud seperti arwah-arwah gentayangan
Menghantui dan mencekik di setiap langkah 
Menancapkan sesuatu yang kekal
Tak bisa dirubah, tak bisa diralat
Sekalipun darah segar mengalir sepanjang waktu dari kedua matamu

Sadis, tak ada ampun 
meski telah bersujud dan bersimpuh
Tak punya hati, selalu memaksa
meski telah berusaha sampai kepala botak
Tapi, selalu bermakna
memberikan hikmah yang berarti dalam kehidupan

Lalu...
Ketika kau berada pada satu titik yang menjenuhkan
Titik yang mematikan dan titik terakhir 
yang menentukan kau selamat atau tidak
Apakah kau akan memiliih hati yang tak tentu akhirnya dan melawan takdir?
Atau kau akan mengikuti takdirmu dengan hikmahnya dan membiarkan hatimu terluka?

Oleh:  Meisa Isnaini
11 April 2015

Senin, 06 April 2015

Tema: Hidup (2)

Takdir

Tak mudah untuk menjalaninya
Tak mudah untuk menebaknya
Datang tak berundangan
Pergi saat diundang
Harus bagaimana menghadapinya...

Hidup ini...
Seperti mencari batu permata di dasar lautan
Berliku-liku seperti jalan pegunungan
Perlu kecerdikan seperti bermain kartu

Apa aku harus diam dan menerima...
Apa aku harus berontak dan melawan...
Apa aku harus memahami dan mengerti...
Atau mungkin harus diam tapi melawan...
Bahkan mungkin harus memahami dan menerima...

Oleh:  Meisa Isnaini
4 April 2015

Tema: Proses

Timang-timang

Hawa mulai dingin
Oksigen karbondioksida berhembus ke tubuh
Dari atas dan bawah secara bersamaan
Seakan-akan ingin berputar-putar dan bertemu lagi pada satu titik

Titik dimana insan akan mati sementara
Titik dimana insan akan menuju ke alam lain
Mata....

Ketika hembusan itu mengusap indera netra
Lemah... dan berdaya...
Menikmati sapuannya, yang merayu-rayu bak perempuan malam
Menggiringnya untuk menutup kelopaknya

Bergoyang-goyang di dalam dekapan
Berayun-ayun di dalam kain panjang

Hingga kelopaknya benar-benar menutup inti kehidupan
Tibalah saatnya meletakkannya pada satu balok
Yang berjeruji namun tak beratap


Oleh:  Meisa Isnaini
4 April 2015

Tema: Hati

Bimbang

Seperti kucing yang meraung-raung
Seperti bayi yang terisak-isak
Suara itu, terkubur oleh yang berat, yang basah, juga yang kasar
Di dalam lapisan hati yang paling dasar

Satu hal yang mampu menembusnya
Yang mendiamkan isakan dan raungan itu

Tapi....
Kenapa acuh???
Kenapa diam???
Dan kenapa tidak peka???

Lengkingan suara itu kini semakin parah
Menjerit-jerit tak terkendali
Hati yang pulih dari anemia
Kini harus masuk ke dalam ruang opname
Keluar darah lagi dan lagi

Wahai insan yang pernah singgah di hatiku
Aku ingin bertanya padamu

Apa yang akan kau lakukan pada hal yang acuh itu???
Bahwa sebenarnya aku tak dianggap ada sama sekali
Apa kau akan menghakiminya???
Apa kau akan membunuhnya???
Atau mungkin kau hanya akan diam saja???

Tuhan...
Diamkan raungan itu
Dan jauhkan dari hal yang acuh itu
Jika hal yang acuh itu bukan untuk memeluknya

Oleh:  Meisa Isnaini
3 April 2015

Rabu, 25 Maret 2015

Tema: Hidup

 Semangat

Bergerak mengikuti intruksi
Berjalan mengikuti arahan
Berputar-putar bak angin topan yang membumbung tinggi
Naik turun jatuh bangkit
Terus menerus tak pernah henti

Bermula dari ketidaksanggupan
Menahan penghadang perjalanan
Mendorong nafsu kemenangan untuk maju
Menangkis segala penyakit yang menyerang dengan ganas
Dan menangkap segala inti sari

Demi untuk menjadi di depan
Demi untuk mendapatkan akuan
Demi untuk melambungkan senyum
Demi untuk menuruti nafsu diri

Ketika kau sudah menggenggam  inti sari
Kau keluarkan jurus pamungkasmu untuk melawan dunia
Untuk mengubah yang klasik menjadi fenomena unik
Untuk mengubah yang beringas menjadi lembut

Tetaplah ada
Tetaplah siap
Tetaplah semangat
Kau dibutuhkan

Oleh: Meisa Isnaini
26Maret 2015

Tema: Loyalitas


Aku padamu

Aku berdiri tegak.....
Layaknya tiang bendera
Dikerumuni nyawa-nyawa yang beraneka warna
Dikerumuni suara-suara yang melengking di telinga
Diguyur hujan yang marah
Diguyur konflik yang menghadang layaknya karang penghalang ombak
Tapi aku tak serapuh ranting-ranting pohon

Aku mengikuti.....
Layaknya bendera kebangsaan
Yang dinaikkan dan diturunkan menyerupai timba
Tak pernah menolak tangan-tangan kekar yang mengangkatku
Tak pernah jua menepis jari-jari manis yang menyentuhku
Aku menikmati setiap hipnotisnya
Terbuai akan celoteh janji-janjinya

Aku bertahan.....
Layaknya bendera di atas tiang
Menahan segala tekanan gaya
Menahan segala rambatan longitudinal
Berpegang teguh pada lilitan tua
Sehingga topan tak mampu menghempaskanku
Menolak rayuan sepoi-sepoi
Menghardik lalat-lalat yang berusaha mengerumuni tubuhku

Aku menerima.....
Layaknya pengemis di jalanan
Lesung pipiku selalu terangkat sehingga bibirku seperti perahu
Karena mengeluh adalah bom mematikan bagiku
Karena menyerah adalah hukuman pancung bagiku

Oleh: Meisa Isnaini 
18 Maret 2015