Rabu, 15 April 2015

Tema: Hidup (3)

Antara Hati dan Takdir

Hati....
Benda pengecut yang selalu di dalam
Sombong karena jasanya menghidupkan orang
Berbadan kecil berotak besar
Berawak satu bernyawa seribu
Mati satu tumbuh seribu
Penyelamat sekaligus penghancur

Ketika hati melengkingkan suaranya
pisau yang tajam pun tak mampu menggoresnya
Ketika hati menyandera kalimat, 
ralat seribu kali pun tak akan dihiraukan
Dan ketika hati telah berubah menjadi pencuri
polisi yang garang sekalipun tak akan mampu membunuhnya

Takdir...
Tak berwujud seperti arwah-arwah gentayangan
Menghantui dan mencekik di setiap langkah 
Menancapkan sesuatu yang kekal
Tak bisa dirubah, tak bisa diralat
Sekalipun darah segar mengalir sepanjang waktu dari kedua matamu

Sadis, tak ada ampun 
meski telah bersujud dan bersimpuh
Tak punya hati, selalu memaksa
meski telah berusaha sampai kepala botak
Tapi, selalu bermakna
memberikan hikmah yang berarti dalam kehidupan

Lalu...
Ketika kau berada pada satu titik yang menjenuhkan
Titik yang mematikan dan titik terakhir 
yang menentukan kau selamat atau tidak
Apakah kau akan memiliih hati yang tak tentu akhirnya dan melawan takdir?
Atau kau akan mengikuti takdirmu dengan hikmahnya dan membiarkan hatimu terluka?

Oleh:  Meisa Isnaini
11 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar